Penelitian terbaru berhasil mengungkap manusia di Sulawesi telah menggunakan biji pinang (areca) setidaknya sekitar 25.000 tahun yang lalu, jauh sebelum berkembangnya pertanian awal dan ribuan tahun sebelum munculnya tradisi makan sirih (betel chewing ) yang dikenal saat ini.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti gabungan anatara Indonesia, Australia dan Amerika ini berfokus pada sisa-sisa manusia dari situs arkeologi Leang Bulu Bettue, Maros dan Leang Cappalombo 1, Bone. Analisis menunjukkan adanya pola keausan gigi yang sangat khas, yang mengindikasikan bahwa individu-individu tersebut kemungkinan secara berulang menempatkan dan memanipulasi biji pinang utuh di dalam mulut.


Yang membuat temuan ini sangat kuat adalah penggunaan berbagai pendekatan ilmiah secara terpadu. Selain analisis arkeologi dan antropologi fisik, tim peneliti juga melakukan analisis biomolekuler yang berhasil mendeteksi arecoline—senyawa aktif utama dalam biji areca—pada sampel gigi manusia prasejarah. Temuan tersebut kemudian diperkuat melalui eksperimen farmakologi yang menunjukkan bahwa biji areca utuh dapat melepaskan komponen aktif yang berinteraksi dengan reseptor yang ada dalam mulut Manusia.
Penelitian ini juga memengusulkan bahwa bentuk awal penggunaan areca kemungkinan berbeda dengan praktik makan sirih modern. Para peneliti menduga bahwa manusia prasejarah lebih sering mengisap biji areca utuh di dalam mulut, suatu perilaku yang mereka sebut sebagai “betel nut sucking”.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat pemburu-peramu di Sulawesi telah mengenal dan memanfaatkan tumbuhan yang memiliki efek fisiologis jauh sebelum munculnya pertanian. Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai hubungan manusia prasejarah dengan lingkungan sekitarnya, sekaligus memperluas pemahaman tentang sejarah penggunaan tumbuhan psikoaktif oleh manusia
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sekitar 25.000 tahun lalu manusia di Sulawesi tidak hanya berburu dan mengumpulkan makanan, tetapi juga telah mengenali serta memanfaatkan sifat biologis tumbuhan tertentu. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengungkap sejarah penggunaan pinang, tetapi juga memberikan gambaran tentang kecerdasan, pengetahuan, dan kemampuan adaptasi manusia prasejarah dalam memahami lingkungannya.



