Penelitian yang dilakukan di Leang Panninge, Mallawa, Maros, mengungkapkan evolusi alat batu yang belum pernah terlihat sebelumnya. Hasil ekskavasi dari tahun 2014 hingga 2024 menunjukkan lapisan budaya yang tersingkap rapi dalam stratigrafi tanah di Leang Panninge, yang berusia sekitar 40.700 hingga 3.500 tahun yang lalu (cal BP). Temuan ini menjadi bukti penting mengenai bagaimana budaya berkembang dari alat batu sederhana menjadi batu serpih bergerigi di satu lokasi, yaitu Leang Panninge.
Dari hasil ekskavasi dan penelitian yang dilakukan, tim peneliti berusaha mengkaji bagaimana perkembangan teknologi budaya Toalean. Penelitian ini bertujuan mengungkap rentang waktu kronologis dari evolusi teknologi Toalean itu sendiri. Fokus utamanya adalah melihat asal-usul teknologi Toalean dan perkembangannya, sehingga menghasilkan informasi yang utuh berdasarkan data kronologis yang diperoleh selama penelitian.


Berdasarkan data penelitian yang diperoleh, penemuan tertua terdapat pada lapisan budaya Pra-Toalean yang berumur sekitar 40.700 tahun yang lalu (cal BP). Artefak batu pada lapisan ini tidak menunjukkan ciri-ciri teknologi Toalean, melainkan berupa temuan batu inti dan serpih utuh. Selanjutnya, memasuki lapisan kebudayaan Toalean sekitar 8.000 tahun yang lalu, ditemukan Maros point sebagai penanda awal kemunculan teknologi Toalean, yang berlanjut hingga Lapisan 2 dan Lapisan 1 sekitar 3.500 tahun yang lalu.

Salah satu hal yang ditemukan adalah adanya celah (gap) atau penurunan kepadatan temuan artefak batu antara lapisan Pra-Toalean dan lapisan awal Toalean, yaitu di antara Lapisan 5 menuju Lapisan 4. Pada lapisan Pra-Toalean juga ditemukan jejak penggunaan oker merah. Berdasarkan hasil analisis penelitian, celah (gap) stratigrafi ini kemungkinan besar dipicu oleh faktor geologi dan sedimentasi alami di dalam gua (seperti erosi atau abrasi), dan bukan menunjukkan ketiadaan penghunian secara total.
Temuan ini menjadi informasi kronologis penting yang mengungkap rentang waktu evolusi manusia prasejarah di Sulawesi. Nenek moyang di Sulawesi sejak dahulu telah memiliki kemampuan berpikir adaptif untuk membentuk kebiasaan dan budaya, mulai dari yang sederhana hingga menciptakan teknologi sekompleks Maros point. Hal ini mengubah pandangan kita mengenai dunia prasejarah di Pulau Sulawesi, bahwa manusia prasejarah telah mampu memikirkan cara beradaptasi dan mengekspresikan diri melalui peninggalan yang terekam di dalam gua tersebut.



